Pertanyaan-pertanyaan yang kerap diajukan

Apakah para remaja di Indonesia dapat mengakses komputer dan internet?

Memang masih sedikit remaja di Indonesia yang dapat mengakses komputer maupun internet. Namun, saat ini jumlah remaja yang menggunakan komputer juga semakin banyak. Internet dan komputer di daerah perkotaan, terutama Jakarta dan kota-besar lainnya, mulai menjadi kebutuhan anak-anak muda untuk belajar, mencari informasi, dan bersosialisasi dengan orang lain tanpa batasan geografis maupun status sosial dan ekonomi.

Pada akhir tahun 2004, pemerintah telah mencanangkan pendidikan dan penerapan teknologi informasi dan komputer bagi sekolah-sekolah menengah di Indonesia, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan. Sementara itu, produksi dan ketersediaan komputer dengan harga murah dan buatan lokal juga telah dikembangkan.

Untuk siswa atau guru yang belum memahami komputer, modul ini juga mengajarkan dasar-dasar penggunaan komputer di bagian yang terpisah (Bab 0). Bagi sekolah, guru dan murid yang sulit mengakses komputer, modul ini juga menyediakan berbagai aktifitas dan latihan yang dapat dikerjakan tanpa menggunakan komputer.

Bukankah sudah ada program pencegahan AIDS?

Ada banyak prakarsa menanggulangi masalah HIV/AIDS dengan berbagai pendekatan. Semua setuju bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati. Program ini menarik karena meletakkan pencegahan HIV/AIDS dalam isu kesehatan yang lebih luas seperti pengenalan seksualitas, kehamilan remaja, dan kekerasan seksual, dengan menggunakan pendekatan berdasarkan hak, segaris dengan kebijakan WPF dan YPI. Program ini juga memberikan keterampilan yang sangat berguna bagi remaja seperti keterampilan hidup dan sosial (misalnya pengenalan diri, komunikasi, asertif, dan perencanaan) dan keterampilan komputer.

Apakah guru-guru mendapatkan keterampilan untuk memfasilitasi program ini?

Guru-guru yang terlibat dalam program ini akan diikutsertakan dalam serangkaian pelatihan yang terdiri dari pelatihan kesehatan dan hak-hak seksual dan reproduksi, keterampilan komputer, keterampilan menjadi fasilitator, serta keterampilan untuk menggunakan program ini. Agar modul ini dapat dimanfaatkan oleh guru dari berbagai bidang, guru tidak perlu menjadi ahli kesehatan reproduksi atau ahli teknologi informatika untuk dapat memfasilitasi modul ini. Karena modul ini sangat mudah digunakan dan dilengkapi dengan berbagai materi dan bahan pengajaran yang diperlukan.

Bagaimana kaum remaja dapat berpartisipasi dalam program ini?

Program ini dikembangkan bekerjasama dengan para guru, seniman, pengembang software atau perangkat lunak komputer, ahli kesehatan reproduksi dan seksual remaja, serta remaja Indonesia. Disain, isi, dan manfaat dari program ini telah diuji coba secara intensif oleh siswa dan guru di tiga sekolah di Jakarta.

Darimana asal nama modul ini?

Nama Dunia Remajaku Seru! atau DAKU!” berasal dari para remaja sendiri, dan dipilih untuk memberikan penekanan kepada aspek positif dari masa remaja, serta penekanan kepada pengembangan potensi remaja sebagai individu agar dapat membuat pilihan yang bertanggung jawab dan melakukan perubahan.

Apakah program ini mudah diadaptasi untuk kondisi dan bahasa yang berbeda?

Pada prinsipnya, program ini bisa diadaptasi ke dalam berbagai bahasa maupun kondisi latar belakang. Modul ini adalah hasil adaptasi dari pengalaman di Uganda, dan tentunya dapat dialih bahasakan dan diadaptasi untuk wilayah lain. Sebelumnya, tentu perlu pemahaman perihal karakteristik kelompok sasaran, kemudian mengadaptasi isinya sesuai dengan kebutuhan. Secara teknis akan sangat mudah mengadaptasi modul ini.

Apakah setiap orang dapat menggunakan program ini?

Penggunaan program ini oleh umum bukanlah sesuatu yang dilarang, bahkan justru dianjurkan. Guru-guru yang menggunakan program akan mendapatkan pelatihan terlebih dahulu yang diberikan oleh ahli kesehatan reproduksi dan seksual remaja. Sementara siswa dapat menggunakannya secara mandiri dan difasilitasi oleh gurunya. Kerja sama dengan pelayanan kesehatan dan konseling remaja sangat diperlukan untuk membantu masalah-masalah kesehatan reproduksi yang dialami remaja. Bila Anda berminat untuk menggunakan program ini, mohon hubungi daku@wpfindonesia.org

Berapa orang yang sedang menggunakan program ini?

Hingga tahun 2006, enam sekolah telah menjalankan program ini. Tahun-tahun berikutnya diharapkan beberapa sekolah lain di luar Jakarta seperti di Bali, Lampung, dan Jambi juga akan menggunakannya. Mereka didampingi oleh pelatih KRS (Kesehatan Reproduksi dan Seksual) dan siswa yang berpartisipasi dalam pengembangan modul ini. Tentu saja program ini membutuhkan banyak dana untuk mendukung penerapan yang lebih luas.