Tips Sederhana Cara Mengelola Keuangan Anda Secara Efektif?

Juni 25th, 2011 by admin

Sebagai remaja, kita juga harus bisa mengelola keuangan kita secara efektif. Kalau tidak, nanti jangan-jangan pemborosan.

Kebiasaan dari kita adalah sulit untuk mengendalikan diri untuk terus belanja walaupun sebenarnya penghasilan kita pas-pasan. Sehingga kalau kita benar-benar peduli dengan kondisi keuangan kita…pasti kita akan terkejut tatkala mengetahui bahwa pengeluaran kita ternyata jauh lebih besar dari pemasukan. Nggak peduli berapa pun jumlah pemasukan anda…kalau anda nggak bisa kelola keuangan dengan baik dan disiplin…maka anda akan gagal. Lebih lanjut simak artikel berikut:

Aturan pertama apabila anda ingin sukses dalam keuangan adalah belanjakan uang lebih sedikit dari pendapatan yang diperoleh. Jika tidak bisa melakukan hal itu, anda tidak akan pernah sukses dalam keuangan. Sekeras apa pun usaha anda, berapa pun banyak waktu yang anda habiskan untuk bekerja, berapa pun banyak peluang-peluang yang anda terima, atau berapa pun banyak uang yang berhasil anda hasilkan…..anda akan gagal dalam mengeola keuangan anda!

Ini adalah aturan yang sederhana, dan kebanyakan orang menerimanya sebagai aturan yang masuk akal. Namun pada kenyataannya banyak orang tidak mempunyai tabungan dan banyak hutang, berarti aturan masuk akal ini tidak dipatuhi.

Berikut ini adalah 10 sebab yang menjadikan seseorang melakukan pembelanjaan yang berlebihan, dan mungkin saja ini juga terjadi pada saya dan anda.

1. Menjaga status di mata orang lain

Faktor psikologi memainkan peran yang besar di dalam kebiasaan belanja kita. Kita ingin merasa sukses atau lebih sukses dibanding orang-orang di sekitar kita. Kita membelanjakan banyak uang untuk menjaga gambaran itu di mata mereka. Padahal di dalam kenyataannya orang-orang itu juga tidak bisa membeli seperti yang dibeli oleh kita secara habis-habisan.

2. Menghindari kenyataan

Adalah mudah membelanjakan uang secara berlebihan apabila kita melupakan rekening-rekening tagihan kita. Kebanyakan orang tidak acuh pada situasi sesungguhnya dari keuangan mereka karena mereka ketakutan untuk memperhatikan kekacauan yang sebenarnya terjadi. Dan itu menjadi lebih mudah untuk sementara dengan menghindarinya. Mereka akan membayar sejumlah pembayaran minimum dari kartu kredit dan kemudian menambah lagi pemakaiannya atau membuka pinjaman baru lalu mengabaikan jumlah keseluruhan hutang yang terus bertambah.

3. Menghitung uang yang belum pasti akan diterima

Banyak dari kita menghabiskan cadangan uang atau meminjam sejumlah uang dan berharap mendapatkan lain sebagai ganti. Misalnya ada rumor mengenai bonus akhir tahun yang belum pasti kebenarannya, atau THR dengan jumlah tertentu. Kita sering terlalu optimis tentang uang yang akan datang berikutnya. Uang itu dibelanjakan sebelum diterima, dan akhirnya – dan ini sering terjadi – jumlahnya tidak sebanyak yang telah dibelanjakan.

4. Uang plastik tidak sama rasanya dengan uang sebenarnya

Pada umumnya kita akan belanja berlebihan di saat menggunakan kartu kredit dibandingkan dengan uang tunai. Ketika kita menggunakan kartu kredit dan kemudian kartu diserahkan kembali oleh kasir kepada kita setelah digunakan, tidak sama rasanya ketika kita membelanjakan uang tunai dan mendapati uang di dompet kita telah berkurang. Kartu kredit tetap utuh kecuali batas kredit terpenuhi, sedangkan uang tunai bisa lenyap.

5. Kepuasan segera

Semua ini mengenai sifat yang mendasar dari kita. Kita telah dibombardir oleh mentalitas yang ingin puas dengan segera. Seperti misalnya “Obat penghilang rasa sakit dengan cepat”, “makanan siap saji”, atau ada pesan iklan “beli sekarang, bayar kemudian”. Apabila kita masih bersikap mental seperti itu, kita akan terus dimanfaatkan oleh produsen karena kita selalu menginginkan apa yang kita mau sekarang juga, tanpa mau tahu bagaimana nanti kita membayarnya.

6. Gaya hidup yang meningkat

Banyak orang mengalami peningkatan biaya hidup seiring dengan peningkatan pendapatan mereka. Tapi tidak pernah terjadi hal sama apabila terjadi penurunan pendapatan. Apabila kita terbiasa dengan suatu gaya hidup tertentu, maka sangat sulit untuk menurunkannya, sekali pun situasi keuangan kita memburuk.

7. Lemah seperti anak-anak

Barangkali masih ada sifat kekanak-kanakan kita yang tidak pernah bisa memegang uang dalam waktu lama karena tidak tahan dengan godaan dan selalu ingin segera menghabiskannya, atau kurangnya pemahaman keuangan menjadi suatu alasan kita membelanjakan uang secara berlebihan.

8. Perasaan akan kekuasaan

Membelanjakan uang seringkali membuat orang merasa kuat dan berkuasa. Semakin banyak mereka berbelanja, semakin kuat dan berkuasa rasanya, dan satu-satunya cara untuk mendapatan kembali rasa berkuasa tersebut adalah dengan membelanjakan lebih banyak uang lagi.

9. Membuktikan harga diri

Seseorang yang membeli sebuah mobil terbaru idaman banyak orang, misalnya, akan merasa telah membuktikan bahwa dia sudah menjadi orang yang sukses. Karena bagi sebagian orang apa yang dibelinya menjadi ukuran penghargaan orang lain terhadap mereka.

10. Tidak bisa berkata tidak

Sebagian orang merasa gagal ketika mereka tidak bisa memenuhi keinginan orang lain. Misalnya mainan baru yang mahal yang sangat diinginkan anak-anaknya, peralatan rumah baru yang sangat diidamkan istrinya, atau sebuah acara jalan-jalan keluar bersama teman-teman lama. Sebagian orang sulit berkata tidak, bahkan ketika mereka tidak bisa memenuhinya sekali pun.

Tips Buat Remaja Yang Free Sex

Juni 25th, 2011 by admin

Hubungan sex diluar nikah membawa cukup banyak dampak negatif bagi diri pelaku maupun lingkungan sekitar. Mulai dari kemungkinan tertular penyakit, hingga kehamilan diluar nikah.
Hal ini juga menyebabkan / berdampak pula pada tingginya tingkat aborsi. Padahal perbuatan aborsi, juga memiliki resiko yang sangat tinggi terhadap keselamatan dari perempuan itu sendiri.

Berikut ini resiko dan bahaya yang terjadi jika melakukan aborsi khususnya remaja:

1. Kematian karena terlalu banyak pendarahan
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan.
4. Sobeknya rahim (Uterine Perforation)
5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.
6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
7. Kanker indung telur (Ovarian Cancer)
8. Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
9. Kanker hati (Liver Cancer)
10. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.
11. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
12. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)
14. Infeksi alat reproduksi karena melakukan kuretase (secara medis) yang dilakukan secara tak steril. Hal ini membuat remaja mengalami kemandulan dikemudian hari setelah menikah.
15. Pendarahan sehingga remaja dapat mengalami shock akibat pendarahan dan gangguan neurologist. Selain itu pendarahan juga dapat mengakibatkan kematian ibu maupun anak atau keduanya.
16. Resiko terjadinya reptur uterus atau robeknya rahim lebih besar dan menipisnya dinding rahim akibat kuretase. Kemandulan oleh karena robeknya rahim, resiko infeksi, resiko shock sampai resiko kematian ibu dan anak yang dikandungnya.
17. Terjadinya fistula genital traumatis adalah suatu saluran atau hubungan antara genital dan saluran kencing atau saluran pencernaan yang secara normal tidak ada.

Nah, akibatnya cukup menyeramkan khan? tidak ada yang enak khan? makanya melakukan hubungan seks diluar nikah jangan dilakukan.

Remaja dan sex pranikah

Juni 25th, 2011 by admin

Remaja kota kini semakin berani melakukan hubungan seksual pranikah. Nampaknya hal itu berkaitan dengan hasil sebuah penelitian, 10 – 12% remaja di Jakarta pengetahuan seksnya sangat kurang. Ini mengisyaratkan pendidikan seks bagi anak dan remaja secara intensif terutama di rumah dan di sekolah, makin penting.

Pengetahuan yang setengah-setengah justru lebih berbahaya ketimbang tidak tahu sama sekali. Kata-kata bijak ini nampaknya juga berlaku bagi para remaja tentang pengetahuan seks kendati dalam hal ini ketidaktahuan bukan berarti lebih tidak berbahaya. Data yang dikumpulkan dr. Boyke Dian Nugraha, DSOG, ahli kebidanan dan penyakit kandungan pada RS Dharmais, menunjukkan 16 – 20% dari remaja yang berkonsultasi kepadanya telah melakukan hubungan seks pranikah. Dalam catatannya jumlah kasus itu cenderung naik; awal tahun 1980-an angka itu berkisar 5 – 10%.

Sementara itu Dra. Yulia S. Singgih Gunarsa, psikolog dan konselor di sebuah sekolah swasta di Jakarta, juga melihat fenomena banyaknya pasangan remaja yang berhubungan dengan calo jasa pengguguran kandungan di Jakarta Pusat dan penggunaan obat-obat pencegah kehamilan.

Data tersebut mungkin tidak mewakili kenyataan sebenarnya, yang bisa menunjukkan angka lebih tinggi atau lebih rendah. Namun setidaknya kasus hubungan seksual pranikah itu ada hubungannya dengan hasil suatu penelitian para dokter di Jakarta. Seperti dikutip Boyke, 10 – 12% remaja di Jakarta pengetahuan seksnya sangat kurang.

Dalam kaitan dengan hubungan seksual, bisa diambil contoh ada remaja yang berpendapat, kalau hanya sekali bersetubuh, tidak bakal terjadi kehamilan. Atau, meloncat-loncat atau mandi sampai bersih segera setelah melakukan hubungan seksual bisa mencegah kehamilan.

Pengetahuan seks yang hanya setengah-setengah tidak hanya mendorong remaja untuk mencoba-coba, tapi juga bisa menimbulkan salah persepsi. Misalnya saja, berciuman atau berenang di kolam renang yang “tercemar” sperma bisa mengakibatkan kehamilan, mimpi basah dikira mengidap penyakit kotor, kecil hati gara-gara ukuran penis kecil, sering melakukan onani bisa menimbulkan impotensi.

Beberapa akibat yang tentunya memprihatinkan ialah terjadinya pengguguran kandungan dengan berbagai risikonya, perceraian pasangan keluarga muda, atau terjangkitnya penyakit menular seksual, termasuk HIV yang kini sudah mendekam di tubuh ratusan orang di Indonesia. Bandingkan dengan temuan Marlene M. Maheu, Ph.D., psikolog yang berpraktek di Kalifornia, AS, bahwa setiap tahun terdapat 1 dari 18 gadis remaja Amerika Serikat hamil sebelum nikah dan 1 dari 5 pasien AIDS tertular HIV pada usia remaja.

Dibentak ortu
Melihat kenyataan itu, pendidikan seks secara intensif sejak dini hingga masa remaja tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apalagi mengingat, “Sebagian besar penularan AIDS terjadi melalui hubungan seksual,” tegas Boyke yang juga pengasuh rubrik konsultasi seks di majalah dan radio. Kalau tidak, mereka yang kini remaja tidak bisa berbuat banyak saat memasuki usia produktif di abad XXI mendatang.

Seperti dikutip Boyke, survai oleh WHO tentang pendidikan seks membuktikan, pendidikan seks bisa mengurangi atau mencegah perilaku hubungan seks sembarangan, yang berarti pula mengurangi tertularnya penyakit-penyakit akibat hubungan seks bebas.

Disebutkan pula, pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-unsur hak azasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama diikutsertakan di dalamnya sehingga akan merupakan pendidikan akhlak dan moral juga. Dengan itu diharapkan angka perceraian yang berdampak kurang baik terhadap anak-anak pun dapat dikurangi.

Hanya yang jadi soal hingga kini, “Pendidikan seks di Indonesia masih mengundang kontroversi. Masih banyak anggota masyarakat yang belum menyetujui pendidikan seks di rumah maupun di sekolah,” tutur dr. Gerard Paat, kolsultan keluarga RS Sint Carolus.

Sekalipun untuk tujuan pendidikan, anggapan tabu untuk berbicara soal seks masih menancap dalam benak sebagian masyarakat. Akibatnya, anak-anak yang berangkat remaja jarang yang mendapat bekal pengetahuan seks yang cukup dari ortu (orang tua). Padahal tidak jarang para remaja sendiri yang berinisiatif bertanya, tapi justru sering disambut dengan “kemarahan” ortu. “Boro-boro mau ngejelasin soal seks, baru nanya sedikit aja, nyokap (ibu) sudah mbentak, ‘Eh itu tabu, jangan diomongin!’” aku seorang remaja putri.

Bahkan anak-anak yang kedua orang tuanya bekerja rata-rata kehilangan panutan. “Orang tua yang mestinya menjadi tokoh panutan utama, justru kurang berperan karena kesibukan mereka sendiri,” kata dr. Paat, yang sejak akhir tahun 1960-an memberikan penyuluhan seks di sekolah dan luar sekolah.

Film, buku, dan motel
Dampaknya tentu bisa ke mana-mana. Antara lain dalam memilih konsumsi tontonan di TV yang masih berat dengan tayangan film barat dengan budaya dan gaya hidup yang berbeda. Kehidupan dunia barat yang digambarkan dalam film ataupun video, menurut Boyke, sering kali menunjukkan kehidupan seks bebas di kalangan remaja. Tayangan serial macam Beverly Hills atau Bay Watch, Boyke menyebut contoh, dengan bintang-bintang molek dan tampan itu mudah sekali merasuk ke dalam benak remaja. Sehingga mereka bisa amat mudah meniru gaya hidup muda-mudi dalam film itu.

“Justru ketika informasi seperti itu tidak bisa kita hindari, peranan orang tua untuk memberikan pengertian yang benar pada anak-anak menjadi penting,” tutur Boyke.

Minimnya pengetahuan seks masih ditambah lagi dengan mudahnya mendapatkan prasarana untuk melakukan seks bebas seperti di motel, cottage, vila; alat kontrasepsi; lebih mudanya rata-rata gadis mendapatkan haid (9 – 11 th); serta tertundanya usia perkimpoian. Semua itu juga faktor yang ikut mempengaruhi remaja melakukan kegiatan seks bebas dan kumpul kebo.

Celakanya, “Remaja yang sudah terbiasa mengadakan hubungan seksual akan sulit menghentikannya,” jelas Paat. Itu bukan semata-mata karena faktor ketagihan, tapi terutama akibat timbulnya persepsi bahwa melakukan hubungan seksual sudah merupakan hal biasa.

Kalau itu sampai terjadi, ortu harus ikut bertanggung jawab. “Orang tualah yang seharusnya pertama-tama memberikan pengetahuan seks bagi anak-anaknya. Informasi seks dari teman, film, atau buku, yang hanya setengah-setengah tanpa pengarahan, mudah menjerumuskan. Apalagi kalau si anak tidak tahu risiko melakukan hubungan seksual pranikah,” kata Boyke.

Menurut Paat, pendidikan seks pasif, karena tanpa komunikasi dua arah semacam itu, sudah bisa mempengaruhi sikap serta perilaku seseorang. “Dalam pendidikan seks anak tidak cukup hanya melihat dan mendengar sekali-dua kali, tapi harus dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan,” katanya. Sebab itu, pendidikan seks hendaknya menjadi bagian penting dalam pendidikan di sekolah. Orang tua dan pendidik wajib meluruskan informasi yang tidak benar disertai penjelasan risiko perilaku seks yang salah.

Namun, pendidikan seks di sekolah mestinya hanya pelengkap pendidikan seks di rumah. Bukan justru menjadi yang utama seperti terjadi selama ini, kendati pendidikan seks di sekolah, menurut beberapa pengamat tadi, masih belum optimal.

Pacaran jangan dilarang
Pemberian pengetahuan seks mesti di rumah dilakukan sejak dini dan dimulai dengan perilaku keseharian anak-anak. Ketika masih anak-anak misalnya, berikan pengertian kepada mereka agar tidak ke luar dari kamar mandi sambil telanjang, menutup pintu kamar mandi ketika sedang mandi, mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk kamar ortu.

Ketika sudah menginjak bangku SD, remaja putri khususnya, mesti sudah dipersiapkan menghadapi masa akil balik. Pada usia sekitar 14 tahun, remaja putri maupun putra rata-rata mulai ingin tahu segala sesuatu tentang lawan jenisnya. “Ini merupakan proses pendewasaan diri, dan tak bisa dicegah,” tegas Boyke. Di sinilah ortu mesti mulai lebih sering mengadakan pendekatan dan memasukkan nilai-nilai moral kepada anak.

Pada saat mereka mulai berpacaran di usia yang sudah cukup, kata Boyke, tak perlu dilarang-larang. Berpacaran merupakan latihan pendewasaan dan pematangan emosi. Dengan berpacaran mereka bisa merasakan rasa rindu atau rasa memiliki, dan berlatih bagaimana harus ber-sharing dengan pasangan. Pada masa ini orang tua remaja putri hendaknya berperan menjadi teman berdiskusi sambil meneliti siapa pacarnya itu.

Dalam hal ini dibutuhkan komunikasi lebih terbuka antara ortu-anak. Melalui komunikasi, yang acap kali banyak diabaikan peranannya, ortu dapat memasukkan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Misalnya, batas mereka boleh bermesraan dan apa konsekuensinya kalau batas itu dilanggar. Kepercayaan dari ortu akan membuat mereka lebih bertanggung jawab.

Berpacaran secara sembunyi-sembunyi akibat tidak diberi kepercayaan justru tidak menguntungkan. “Ingat, kasus-kasus kehamilan pranikah umumnya dilakukan oleh mereka yang back street,” kata Boyke. “Mungkin juga akibat hubungan dengan orang tua kurang akrab atau orang tua terlalu kaku.”

Dr. Paat maupun dr. Boyke menyatakan, penjelasan mengenai risiko melakukan hubungan seksual pranikah perlu ditekankan. Umpamanya, kehamilan, kemungkinan terinfeksi HIV atau tertular penyakit kelamin kalau bergonta-ganti pasangan. Bila terjadi kehamilan dan kandungan terpaksa digugurkan, mereka menghadapi kemungkinan perdarahan, infeksi, kemandulan, bahkan kematian. Belum lagi stres atau rasa berdosa yang bakal dihadapi si anak. Juga diingatkan, dengan anak yang mereka lahirkan di luar nikah, mereka juga yang mesti bertanggungjawab sebagai ayah dan ibunya. Jangan lupa pula, “Jagalah agar jiwa mereka tidak banyak terganggu, apalagi selama mereka masih belum dewasa, masih harus sekolah, dan lain-lain,” tambah Yulia.

Kapan saja, di mana saja
Penjelasan yang baik mampu membuka mata mereka betapa melakukan hubungan seksual pranikah itu tidak ada untungnya. Ini misalnya terbukti ketika dr. Boyke membagikan kuesioner kepada peserta seminar remaja. Jawaban mereka sebelum dan sesudah mendengarkan ceramah bertolak belakang. Sebelum seminar, mereka rata-rata menyetujui hubungan seksual sebelum nikah. Tapi sesudahnya, 90% peserta menyatakan tidak setuju. Juga terungkap, mereka setuju adanya pendidikan seks, hanya tidak tahu harus ke mana memperolehnya.

Penyampaian materi pendidikan seks di rumah sebaiknya dilakukan kedua orang tua. “Sebelum usia 10 tahun pendidikan bisa diberikan secara bergantian, tapi umumnya ibu yang lebih berperan,” kata Paat. Menjelang akil balik, saat sudah terjadi proses diferensiasi jenis kelamin dan mulai muncul rasa malu (pada wanita mengalami haid, pertumbuhan payudara, dan pada laki-laki mengalami mimpi basah dan perubahan suara), sebaiknya ibu memberi penjelasan kepada anak perempuan dan ayah kepada anak laki-laki. “Sekali waktu boleh diadakan komunikasi silang. Misalnya, kepada anak perempuannya seorang ayah dapat berdiskusi bagaimana perasaan-perasaan pria bila jatuh cinta, atau sebaliknya kepada anak laki-lakinya, ibu bisa mengungkapkan bagaimana perasaan seorang wanita bila didekati pria.”

Menjelaskan tentang seks juga tidak perlu secara eksklusif. Itu bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Saat sedang sibuk memasak, misalnya, tiba-tiba si anak bertanya tentang kehamilan. Sang ibu tidak perlu menangguhkan jawaban atau menjanjikan jawaban akan diberikan panjang lebar di kamar, tapi bisa langsung saat itu juga. Tindakan eksklusif, menurut Paat, malah membuat si anak bisa berkesimpulan, seks merupakan sesuatu yang luar biasa dan harus dirahasiakan. Padahal pertanyaan seperti itu lumrah dan merupakan bagian dari kehidupannya.

“Kalau anak kita sama sekali tidak pernah bertanya soal seks, jangan dikira pasti beres. Coba pancinglah dengan buku,” jelas Paat. “Keterangan dalam buku yang kurang jelas bisa didiskusikan dengan orang tua,” tambah Boyke.

Di RT pun bisa
Pendidikan seks di sekolah, demikian Yulia dan Paat, hendaknya tidak terpisah dari pendidikan pada umumnya, dan bersifat terpadu. Ia bisa dimasukkan ke dalam pelajaran ilmu biologi, kesehatan, moral dan etika secara bertahap dan terus menerus. Mereka juga mensyaratkan penekanan pada pendidikan moral, meski tidak perlu sedetail pendidikan agama, agar pendidikan seks diterima murid sebagai suatu ilmu yang tidak untuk dipraktekkan sebelum waktunya.

Sekali waktu penyuluhan seks juga perlu diadakan. Misalnya, soal menghadapi masa haid dan mimpi basah bisa diberikan kepada anak kelas VI SD, proses terjadinya bayi (spermatozoa bertemu dengan sel telur) mulai diberikan kepada murid SLTP. Selanjutnya masalah kebebasan seks, alat kontrasepsi sampai hubungan seks (bukan tekniknya) diberikan kepada anak SLTA.

Menurut Yulia, penjelasan tentang program pendidikan seks yang hendak disampaikan kepada murid perlu juga diketahui orang tua murid. Maksudnya, agar mereka bisa memberi jawaban dan tidak terkejut bila tiba-tiba si anak atau remaja bertanya soal seks kepada mereka. “Karena, kadang-kadang ada anak yang dengan begitu bangga bercerita tentang pengetahuan seks yang baru diberikan di sekolah,” tutur Yulia.

Dr. Paat dan dr. Boyke saling berbeda pendapat dalam soal penyampaian informasi tentang alat kontrasepsi. “Alat kontrasepsi macam kondom bukan rahasia lagi, karena dapat dibeli di mana-mana. Yang penting, mereka diberi penjelasan bahwa pemakaian sebelum menikah merupakan pelanggaran nilai-nilai moral dan agama,” kata Paat. Sedangkan Boyke kurang setuju memperkenalkan pemakaiannya kepada remaja, karena khawatir disalahgunakan.

Lebih tepat, kata Paat, kalau tema penyuluhan didasarkan pada pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach), yakni penyuluhan disertai kesempatan berkonsultasi dengan guru, konsultan psikologi di sekolah, atau guru agama. Pasalnya, masalah yang dihadapi setiap murid berbeda-beda.

Dalam hal ini Dra. Yulia menganggap penting peran guru bimbingan dan penyuluhan (BP). Guru-guru ini tak cuma sebagai guru BP, tapi juga mesti tahu soal pendidikan seks. “Kadang-kadang murid segan bertanya kepada orang tua. Atau, pernah bertanya malah dimarahi bapak atau ibunya,” jelas Yulia. Dengan adanya kesempatan berkonsultasi, si anak bisa mengutarakAN masalah pribadinya.

Bagaimanapun pendidikan seks bukan semata-mata tanggung jawab orang tua dan pendidik, tetapi juga masyarakat.

10 Tips Oke Menjadi Remaja Yang Menarik Hati

Juni 25th, 2011 by admin

Kata kunci yang harus diperhatikan dalam berhubungan dengan orang lain adalah harga diri. Begitu pentingnya harga diri, sehingga tidak sedikit orang yang mempertaruhkan nyawanya demi mempertahankan harga dirinya. Untuk menjadi pribadi yang disukai, harus terus belajar memuaskan harga diri orang lain. Karena dengan harga diri yang terpuaskan, orang bisa menjadi lebih baik, lebih menyenangkan, dan lebih bersahabat.

Nah berikut ada 10 tips oke agar kamu menjadi remaja yang menarik hati.

1.ROYALAH DALAM MEMBERI PUJIAN
Pujian itu seperti air segar yang bisa menawarkan rasa haus manusia akan penghargaan. Dan kalau Anda selalu siap membagikan air segar itu kepada orang lain, Anda berada pada posisi yang strategis untuk disukai oleh orang lain. Caranya? Bukalah mata lebar-lebar untuk selalu melihat sisi baik pada sikap dan perbuatan orang lain. Lalu pujilah dengan tulus.

2.BUATLAH ORANG LAIN MERASA DIRINYA SEBAGAI ORANG PENTING
Tunjukkanlah dengan sikap dan ucapan bahwa anda menganggap orang lain itu penting. Misalnya, jangan biarkan orang lain menunggu terlalu lama, katakanlah maaf bila salah, tepatilah janji, dsb.

3.JADILAH PENDENGAR YANG BAIK
Kalau bicara itu perak dan diam itu emas, maka pendengar yang baik lebih mulia dari keduanya. Pendengar yang baik adalah pribadi yang dibutuhkan dan disukai oleh semua orang. Berilah kesempatan kepada orang lain untuk bicara, ajukan pertanyaan dan buat dia bergairah untuk terus bicara. Dengarkanlah dengan antusias, dan jangan menilai atau menasehatinya bila tidak diminta.

4.USAHAKANLAH UNTUK SELALU MENYEBUTKAN NAMA ORANG DENGAN BENAR
Nama adalah milik berharga yang bersifat sangat pribadi. Umumnya orang tidak suka bila namanya disebut secara salah atau sembarangan. Kalau ragu, tanyakanlah bagaimana melafalkan dan menulis namanya dengan benar. Misalnya, orang yang dipanggil Wilyem itu ditulisnya William, atau Wilhem? Sementara bicara, sebutlah namanya sesering mungkin. Menyebut Andre lebih baik dibandingkan Anda. Pak Peter lebih enak kedengarannya daripada sekedar Bapak.

5.BERSIKAPLAH RAMAH
Semua orang senang bila diperlakukan dengan ramah. Keramahan membuat orang lain merasa diterima dan dihargai. Keramahan membuat orang merasa betah berada di dekat Anda.

6.BERMURAH HATILAH
Anda tidak akan menjadi miskin karena memberi dan tidak akan kekurangan karena berbagi. Seorang yang sangat bijak pernah menulis, Orang yang murah hati berbuat baik kepada dirinya sendiri. Dengan demikian kemurahan hati disatu sisi baik buat Anda, dan disisi lain berguna bagi orang lain.

7.HINDARI KEBIASAAN MENGKRITIK, MENCELA ATAU MENGANGGAP REMEH
Umumnya orang tidak suka bila kelemahannya diketahui oleh orang lain, apalagi dipermalukan. Semua itu menyerang langsung ke pusat harga diri dan bisa membuat orang mempertahankan diri dengan sikap yang tidak bersahabat.

8.BERSIKAPLAH ASERTIF
Orang yang disukai bukanlah orang yang selalu berkata Ya, tetapi orang yang bisa berkata Tidak bila diperlukan. Sewaktu-waktu bisa saja prinsip atau pendapat Anda berseberangan dengan orang lain. Anda tidak harus menyesuaikan diri atau memaksakan mereka menyesuaikan diri dengan Anda. Jangan takut untuk berbeda dengan orang lain. Yang penting perbedaan itu tidak menimbulkan konflik, tapi menimbulkan sikap saling pengertian. Sikap asertif selalu lebih dihargai dibanndingkan sikap Yesman.

9.PERBUATLAH APA YANG ANDA INGIN ORANG LAIN PERBUAT KEPADA ANDA
Perlakuan apapun yang anda inginkan dari orang lain yang dapat menyukakan hati, itulah yang harus anda lakukuan terlebih dahulu. Anda harus mengambil inisiatif untuk memulainya. Misalnya, bila ingin diperhatikan, mulailah memberi perhatian. Bila ingin dihargai, mulailah menghargai orang lain.

10.CINTAILAH DIRI SENDIRI
Mencintai diri sendiri berarti menerima diri apa adanya, menyukai dan melakukan apapun yang terbaik untuk diri sendiri. Ini berbeda dengan egois yang berarti mementingkan diri sendiri atau egosentris yang berarti berpusat kepada diri sendiri. Semakin Anda menyukai diri sendiri, semakin mudah Anda menyukai orang lain, maka semakin besar peluang Anda untuk disukai orang lain. Dengan menerima dan menyukai diri sendiri, Anda akan mudah menyesuaikan diri dengan orang lain, menerima mereka dengan segala kekurangan dan keterbatasannya, bekerjasama dengan mereka dan menyukai mereka. Pada saat yang sama tanpa disadari Anda memancarkan pesona pribadi yang bisa membuat orang lain menyukai Anda.

Nah, sekarang pasti anda menjadi remaja yang menarik hati.

Rencana Hidup Itu Penting

Juni 25th, 2011 by admin

Sebagai seorang remaja, kita harus punya perencanaan dalam setiap kegiatan. Hal ini tidak boleh kita abaikan sebagai seorang remaja. Agar kehidupan kita kelak tidak berantakan.

Perencanaan adalah hal yang sangat penting dalam setiap kegiatan yang akan kamu lakukan. Tidak peduli apa profesimu entah pengusaha, wiraswastawan, olahragawan, atau pelajar, perencanaan yang baik menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan dan kegagalanmu. Kamu membuat perencanaan tidak hanya saat kamu mengerjakan proyek besar, tetapi hal-hal sederhana seperti liburan, pesta ulang tahun atau pertandingan olahraga, semua itu memerlukan perencanaan dan persiapan yang matang untuk mencapai hasil yang maksimal. Seperti kata pepatah: by failing to prepare, you’re preparing to fail… By failing to plan, you’re planning to fail.

Berikut ini adalah 10 manfaat memiliki rencana dalam hidupmu:

1. Sebagai panduan dalam membuat keputusan atau bertindak


Inilah salah satu tujuan utama mengapa kamu harus memiliki rencana dalam hidup karena rencana memberimu panduan kemana arahmu berjalan. Kamu juga akan lebih mudah saat mengambil keputusan, karena kamu memiliki pegangan hidup supaya keputusanmu tidak membuatmu melenceng dari tujuan. Bayangkan jika kamu tidak memiliki rencana, kamu akan seperti orang yang tersesat karena kamu tidak memiliki sesuatu yang bisa menuntunmu ke tujuanmu. Apa kamu bisa membangun sebuah gedung 20 lantai dengan langsung membuat pondasinya, tanpa membuat desainnya terlebih dahulu? Tidak, kan.

2. Mengetahui perkiraan modal yang dibutuhkan


Dengan terlebih dahulu membuat perencanaan, kamu bisa mengetahui seberapa banyak kira-kira modal yang kamu butuhkan untuk merealisasikan rencanamu. Tanpa perencanaan, kamu akan kesulitan untuk memperkirakan pengeluaranmu.

3. Membuatmu memiliki target


Setiap rencana pasti memiliki target yang harus kamu capai, entah per jam, per bulan, atau per tahun dan itu akan membawa hidupmu ke level selanjutnya ketika berhasil dicapai. Akan sangat menyedihkan apabila kamu tidak memiliki target dalam hidup, karena kamu tidak memiliki sesuatu untuk diperjuangkan.

4. Membantu untuk tetap fokus


Adakalanya saat kamu bekerja, kamu akan menghadapi gangguan-gangguan yang membuatmu kehilangan fokus dan berjalan ke luar dari jalur. Nah, dengan memiliki rencana, kamu dapat dengan mudah untuk kembali ke jalur yang benar. Caranya adalah dengan mengingatkan dirimu sendiri bahwa kamu memiliki pekerjaan yang harus kamu selesaikan dan target yang harus kamu capai agar rencanamu dapat berjalan dengan baik.

5. Membuatmu untuk tetap termotivasi


Semakin banyak yang bisa kamu selesaikan dari rencanamu, membuatmu semakin termotivasi untuk melangkah dan motivasi yang besar itu akan meningkatkan produktivitasmu juga. Kombinasikan rasa puas terhadap keberhasilanmu itu dengan impian-impian seperti ingin membahagiakan orang tua dan pasangan, ingin memiliki keluarga yang bebas masalah finansial, atau ingin berkeliling dunia maka saya jamin motivasimu akan semakin berlipat ganda.

6. Siap untuk hal-hal yang buruk


Keuntungan lain memiliki rencana adalah kamu sudah memiliki tindakan preventif, antisipatif, dan alternatif ketika rencana utamamu tidak berjalan sesuai yang kamu harapkan. Jika sesuatu yang buruk terjadi (misalnya perubahan pasar, krisis ekonomi, perubahan cuaca, dll), kamu mampu beradaptasi dan bertindak sesuai dengan situasi. Ini merupakan hal yang penting, karena di dunia ini sesuatu yang buruk bisa datang kapan saja dalam bentuk apapun. Tentu saja supaya kamu bisa tetap survive, kamu harus mempersiapkan rencanamu secara matang.

7. Dapat memanfaatkan waktu secara efektif

Waktu adalah sesuatu yang tidak bisa kamu putar kembali, jadi kamu harus memanfaatkannya secara efektif. Perencanaan dan pengaturan timeline yang baik akan SANGAT membantumu untuk melakukan itu karena kamu sudah tahu kapan harus mengerjakan ini dan itu dan kapan harus beristirahat. Pemanfaatan waktu yang efektif akan membuatmu lebih cepat mencapai tujuan hidupmu.

8. Dapat menggunakan sumber daya secara efektif


Ketika kamu bekerja di lingkungan yang serba terbatas, kamu akan mampu untuk memanfaatkan segala sumber daya baik modal maupun SDM secara maksimal. Seberapa efektif kamu memanfaatkan sumber daya yang kamu punya akan sangat menentukan output/hasil akhir yang kamu terima. Prinsipnya adalah mengeluarkan sedikit, hasil lebih besar (Spend less, greater result). Dengan perencanaan, kamu bisa melakukannya sejak awal kamu melangkah.

9. Mengurangi resiko dan ketidakpastian


Tentu saja tidak ada yang pasti di di dunia ini dan resiko selalu ada saat kamu melakukan sesuatu. Namun, dengan perencanaan yang baik, kamu dapat mengurangi kemungkinan hal buruk terjadi secara signifikan. Karena seringkali, meskipun bukan satu-satunya faktor, hal yang buruk terjadi karena kurangnya perencanaan dan persiapan.

10. Membuatmu lebih tenang dalam bertindak


Tidak adanya perencanaan dan persiapan, akan membuatmu tegang dan gelisah saat bekerja. Dengan merencanakan segala sesuatunya terlebih dahulu, secara psikologis kamu akan lebih merasa tenang karena kamu yakin bahwa kamu sudah siap.


Lima Investasi Paling Penting Kehidupan

Juni 25th, 2011 by admin

Bagi anda para remaja, harus ingat lima investasi paling penting buat kehidupan ini. Agar kehidupan di masa berikutnya tidak sia-sia dan lebih berguna.

Investasi yang paling penting dalam hidup yang pertama bukanlah sebuah rumah atau saham, namun adalah orang-orang yang anda ajak berteman dan siapa yang Anda jadikan pedoman. Orang yang Anda ajak berteman akan memberikan dampak terbesar pada kehidupan Anda. Uang tidak akan membawa Anda peluang, begitu pula rumah. Hanya orang-orang disekitarlah yang dapat memberikan orang lain kesempatan. Hanya temanlah yang dapat membantu seseorang.

Investasi yang paling penting kedua dalam hidup adalah waktu. Setiap orang hanya memiliki waktu 24 jam sehari. Apa yang Anda lakukan dengan waktu Anda ini? Apakah Anda menggunakan waktu Anda berpikir masa depan, menonton sinetron atau berkomunikasi dengan orang lain? Jika Anda membagi pendapatan bulanan Anda dengan 30 hari dan kemudian dibagi lagi dengan 24 jam, Anda akan mengetahui nilai waktu Anda per jam.

Investasi yang paling penting ketiga dalam kehidupan adalah kesehatan. Jagalah pikiran dan tubuh Anda dalam harmoni. Tubuh ini akan Anda bawa seumur hidup. Pikirkan tentang perumpamaan berikut: Jika kapal bocor, apakah ia masih juga bisa berlayar di laut?Kesehatan jiwa adalah dasar bagi kita untuk mengelola kehidupan kita dalam dunia yang kompleks ini. Pikirkan tentang perumpamaan berikut: Bahkan sebuah kapal terbaik pun jika tidak memiliki kapten yang baik, ia masih akan mengalami kesulitan.

Investasi yang paling penting keempat dalam hidup adalah karir Anda. Pemilihan pekerjaan yang tepat adalah penting. Saat ini pria dan wanita lelah bekerja pada bidang yang salah. Namun bahkan jika Anda memilih bidang yang tepat, tetapi tidak memiliki pemimpin yang tepat, Anda mungkin akan menyesali waktu yang dihabiskan pada pekerjaan itu.

Investasi yang paling penting kelima dalam hidup ini adalah pasangan Anda. Manusia adalah makhluk sosial dan hidup dalam hubungan sosial. Memiliki pasangan dalam hidup adalah hubungan yang paling intim di antara berbagai hubungan sosial yang potensial. Seorang pasangan yang baik dapat membantu seseorang mengatasi situasi sulit. Seorang pasangan yang baik adalah sebuah pelabuhan yang aman bagi jiwa seseorang. Sebagian besar hidup seseorang tergantung pada pasangan yang ia pilih. Pilihan ini akan mempengaruhi setiap detail kehidupan sehari-hari Anda.

Informasi yang Dibutuhkan Pada Kehamilan Tidak Direncanakan

Juni 23rd, 2011 by admin

Banyak remaja di Denpasar tidak memiliki akses informasi tentang masalah kesehatan reproduksi, yang menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan.

 

Dalam lima bulan terakhir, Klinik Remaja KISARA telah menerima lebih dari 100 siswa wanita yang mengaku bahwa mereka hamil di luar nikah.
“KISARA telah memberikan layanan konseling kepada 200 remaja di kota Sekitar setengah dari mereka. Gadis dengan kehamilan yang tidak diinginkan. Ini adalah fakta menyedihkan,” kata IGN Pramasemara, koordinator medis di Klinik Pemuda,.
Dibuka pada 1 September 2008, Klinik Remaja KISARA adalah bagian dari Pusat Pemuda Terpadu organisasi KISARA.
Dokter mengatakan ia begitu optimis dan senang melihat semakin banyak pemuda yang sudah sadar kesehatan pribadi mereka.
“Mereka bisa lebih terbuka dan tempat untuk berbagi masalah mereka. Kita harus memberikan dukungan moral, serta bantuan medis, untuk memecahkan masalah mereka,” kata Pram.

Pram menambahkan bahwa beberapa remaja ditemukan menderita berbagai penyakit menular seksual (PMS), HIV / AIDS dan bahkan kanker payudara.
“Dengan mengunjungi klinik ini dan berbagi masalah mereka dengan teman mereka atau staf medis, orang muda yang mulai mendapatkan pengetahuan tentang bagaimana untuk menghentikan perilaku berisiko mereka dan untuk memecahkan masalah fisik dan mental yang sudah ada dengan cara yang benar,” katanya.
Klinik, yang terletak di Jl. Gatot Subroto IV, menawarkan layanan seperti konseling psikologis, informasi mengenai kesehatan reproduksi, obat-obatan dan pemeriksaan medis. “Orang muda juga ingin tahu tentang program pendidikan seks yang tepat,” tambahnya.
Mayoritas remaja mengunjungi klinik itu datang dari pinggiran Denpasar. “Banyak dari mereka datang dari kota-kota lain karena mereka mungkin tidak memiliki akses untuk bantuan medis atau konseling psikologis di kota asal mereka,” katanya.

Di Bali, ada yang diperkirakan sebesar 800.000 penduduk muda keluar dari 3,5 juta penduduk pulau itu.
dokter lain, I Ketut Raka, dilihat kehamilan yang tidak diinginkan sebagai salah satu masalah kesehatan yang paling serius yang dihadapi oleh gadis-gadis muda. “Ini akan mempengaruhi masa depan mereka. Banyak dari gadis-gadis telah meminta saya bagaimana untuk menggugurkan kehamilan mereka,” kata Raka.
Dia juga terkejut mengetahui bahwa banyak gadis yang memiliki informasi yang salah tentang aborsi. “Mereka percaya pada mitos yang mengatakan bahwa mereka dapat menggugurkan janin dengan mengkonsumsi pil yang tidak sah, nanas segar, minuman keras dan jamu tradisional yang berbahaya,” kata dokter.